Tampilkan postingan dengan label Motivasi Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2024

Sebelum Anak Dimasukkan ke Pesantren Harus Tahu ini Dulu!

 


Sebagian  besar orang tua memasukkan anak ke pesantren dengan harapan sang anak kelak menjadi pribadi yang baik atau dalam bahasa agama Islam menjadi anak yang saleh dan salehah, anak memiliki ilmu agama yang mumpuni dan kelak ia dapat berdikari di masyarakat.

Pesantren masih dianggap sebagai tempat yang strategis untuk mewujudkan harapan dan kekhawatiran orang tua akan masa depan sang anak. Sehingga ada orang tua yang memaksakan kehendaknya kepada anak tanpa menimbang keinginan dan kesiapan dari sang anak. Padahal keinginan dan kesiapan sanga anak merupakan modal penting bagi anak untuk bisa bertahan belajar selama di pesantren.

Ada orang tua memasukkan anak hanya bermodal percaya dan yakin kepada kiayinya. Yakin kepada sang kiyai sah dan boleh saja, tapi perlu dicari tahu apakah sang kiyai ikut langsung atau tidak dalam pengasuhan santri di pesantren. Karena ada kiyai yang sibuk ceramah dan pesantrenya diserahkan kepada orang lain. Dan perlu diingat jangan masukkan anak ke pesantren karena ikut-ikutan.

Korban di lingkungan pesantren bertambah lagi, Setidaknya saya menuliskan 10+1 hal yang perlu orang tua ketahui sebelum memasukan anaknya ke pesantren:

  1. Keinginan dan kesiapan sang anak (penting banget!)
  2. Model Pesantren (Modern/Konvensional)
  3. Latar belakang Pendiri,Pemimpin, guru/asatidzah pesantren (googling aja)
  4. Sistem pengasuhan, penjagaan dan komunikasi anak di pesantren
  5. Sistem pengajaran (kurikulum, kitab-kitab yang diajarkan, sistem ujian/kenaikan kelas, kelulusan dll)
  6. Sistem pembiasaan santri dalam 24 jam-sehari semalam (tidur, makan, ibadah, belajar, berkegiatan)-(pertimbangkan stress yang didapat anak saat di pesantren)
  7. Sistem penanggulangan kesehatan, kehilangan barang, perundungan/kekerasan dan hukuman/konsekuensi yang diberikan kepada santri
  8. Bentuk organisasi yang ada di kalangan santri (heararki/senioritas)-cari tahu kasus-kasus yang terjadi pada santri di pesantren dalam 2-3 tahun belakangan.
  9. Kegiatan tambahan dan ekstrakurikuler pesantren
  10. Biaya yang dikeluarkan selama belajar
  11. Komentar para alumni selama belajar di pesantren

Semoga membantu ayah/bunda untuk mencari pesantren yang terbaik bagi sang anak. Dan pihak pesantren semakin memperbaiki kualitas layanan bagi santrinya dan kekerasan bukan hal yang melekat lagi di lingkungan pesantren.

Sabtu, 06 Maret 2021

Pentingnya Merancang Sistem Kebaikan

Setiap orang yang beriman sangat senang dengan amalan baik. begitu juga dengan saya dan Anda. amalan baik menjadi sebuah sasaran bagi setiap orang beriman, karena orang yang beruntung adalah orang yang beriman dan beramal saleh. (QS Al Ashr:3).  Namun, melakukan amalan baik tidaklah mudah, karena iblis dan tentaranya telah berjanji akan senantiasa menyesatkan keturunan anak Adam (QS Al A'raf 202). Dan yang harus kita lakukan adalah membuat sistem yang menjadikan kita terbiasa untuk beramal baik.

bisa kita ambil menjadi rujukan awal kita dalam membangun sistem adalah firman Allah Ta'ala dalam QS Al Zalzalah ayat 7.

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ [٩٩:٧]

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

dari ayat ini kita ambil dzarrah yang berarti partikel terkecil. merancang sistem yang baik adalah memulai dari dzarrah khoiran (kebaikan terkecil). Membuat perubahan kecil setiap hari adalah sistem yang akan kita bangun. Contohnya dengan membiasakan membaca Al Quran 4 halaman setiap habis shalat lima waktu, membiasakan kita untuk menghatamkan 1 juz dalam sehari. Membaca buku setiap malam 1 bab dan menuliskannya dapat membiasakan kita untuk selalu belajar dan menulis yang produktif.  Dengan merancang sistem kebaikan maka menjadikan kita terbiasa untuk selalu menyelesaikan kebaikan demi kebaikan. 

Intinya kita punya tahapan proses yang mengarahkan kita pada setiap kebaikan. seperti kita ingin menguasai bahasa Arab, maka kita mulai dari belajar bab per bab setiap hari, baik dari membaca, menghafal mufradat, menterjemahkan, belajar kaidah dll. semua ini hendaknya menjadi rancangan disetiap kepala orang beriman. berkomitmen dengan proseslah yang membuat kita akan menjadi maju. Beriman dan beramal saleh yang membuat kita termasuk menajdi golonngan orang yang beruntung kelak di hari akhir.

untuk menguatkan bahwasanya Rasulullah bersabda :

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. HR Muslim No 783.

Wallahu A'lamu Bish Shawwab


Sabtu, 27 Februari 2021

Mereka yang Berhati Bening_Para Penghuni Surga


Sejarah mencatat mereka yang memiliki hati-hati yang bening, mereka adalah penghuni surganya Allah Ta'ala. Sebagian contoh dalam surah Al Hasr  ayat 8-9 Allah menceritakan tentang dua kaum yang berhati bening, yaitu; kaum pertama Allah memberikan pujian bahwa mereka orang-orang yang shodiq/benar, mereka adalah kaum muhajirin (kaum yang ikut serta berhijrah dari Mekkah ke Madinah), keadaan mereka saat itu fakir kemudian terusir dari Mekkah dikarenakan mereka memilih memihak kepada agama Allah, mereka memiliki keyakinan bahwa karunia Allah lebih luas dan mendapatkan ridha Allah dalam kehidupan ini menjadi tujuan utama dalam kehidupan mereka maka mereka dedikasikan kehidupan mereka untuk menolong agama Allah dan rasul-Nya.

dalam firman yang Indah Allah berfirman:

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. 

Kaum kedua yang juga Allah puji mereka, Allah menobatkan mereka sebagai orang-orang yang beruntung. Mereka adalah kaum Anshar yang menempati kota Madinah ketika peristiwa hijrah terjadi. Mereka sangat senang menyambut saudara seiman mereka yang masuk kedalam negeri mereka. Mereka memiliki hati yang bening, terlihat dari sambutan hangat mereka kepada kaum Muhajirin, mereka menyukai mereka dan tidaklah mengharap apa-apa dari hijrahnya mereka (Kaum Muhajirin) ketika masuk ke dalam negeri mereka. kalau bahasa orang sekarang no money-no service (tidak ada uang maka tidak ada layanan). Namun tidak demikin bagi orang-orang Anshar,  bahkan mereka sangat mengutamakan kaum Muhajirin di atas keutamaan mereka. Sebagaimana yang pernah kita dengar cerita dari sahabat Abdurrahman bin Auf yang ikut hijrah ketika itu mendapatkan pelayanan yang sangat baik, bahkan mereka memberikan tanah dan ladang mereka untuk ditempati oleh Kaum Muhajirin, tidak hanya itu, mereka pun bersedia memberikan istri mereka kepada kaum Muhajirin (mereka punya banyak istri). Namun Abdurrahman bin Auf memilih untuk berusaha sendiri. Allah menjaga hati-hati kaum Anshar dari sifat kikir maka mereka termasuk orang yng beruntung (baca: penghuni surga).

Allah Ta'ala berfirman:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

 Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung (QS Al Hasyr: 8-9)

Pelajaran Iman yang bisa kita teladani:

1. Selalu berpihaklah kepada kebenaran, yaitu Agama Allah dan Rasul-Nya

2. Yakinilah bahwa karunia Allah itu luas dan tidak terbatas

3. Jadikan bahwa meraih ridha Allah sebagai tujuan kehidupanmu

4. Hati yang bening, hati yang penuh persahabatan dengan sesama mukmin (jauh dari celaan, tuduhan, buruk sangka, dengki, merasa tidak adil dll)

5. Mengutamakan saudara seiman adalah akhlak yang mulia

6. PENTING! jagalah diri kita dari sikap kikir/pelit.

Alhamdulillah, semoga kita bisa meneladani perilaku mereka yang berhati bening. 

Kamis, 25 Februari 2021

Fokuslah Bahwa Tujuanmu Adalah Allah Ta'ala

Sepanjang hidup yang anak Adam jalani banyak pelajaran dan pengalaman hidup yang sangat menyenangkan. Karena sangat menyenangkanya menjadikannya lupa dan bias akan tujuan hidup yang sebenarnya. Pandangan Allah yang menjadi tujuan  bergeser menjadi mengharap dan mengiba pada pandangan manusia. Lupa bahwa seharusnya ia mencukupkan diri pada pandangan dan ridha Allah karena ridha seluruh manusia tujuan yang tidak mungkin tercapai, sedangkan ridha Allah adalah tujuan yang tidak boleh ditinggalkan. Maka tiggalkanlah tujuan yang tidak mungkin dicapai dan raihlah tujuan yang tidak boleh ditinggalkan.

Seorang alim ulama mengatakan:

Kita semua; manusia biasa di mata orang yang tidak kenal kita.

Kita semua; manusia yang terperdaya di mata orang yang hasad kepada kita

Kita semua; manusia hebat di mata orang yang memahami kita

Kita semua; manusia istimewa di mata orang yang senang kepada kita.

Setiap orang memiliki pandangan masing-masing, maka jangan menyusahkan diri agar dipanang baik oleh orang lain. CUKUPLAH BAGIMU RIDHA ALLAH TA'ALA, FOKUSLAH BAHWA TUJUANMU HANYALAH DIA.

disadur dari tulisan Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny MA Hafidzahullah.

Kamis, 25 Juli 2019

Nasehat untuk Para Hafidz Al Quran dai Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu

Dari Musayyab bin Rafi' Abdulah bin Mas'ud Rodhiyallahu anhu berkata, " Seorang pengemban Al Quran seyogyanya menghidupkan malamnya ketika manusia tidur, berpuasa di siang harinya ketika manusia berbuka, sedih ketika manusia bahagia, menangis ketika manusia tertawa, diam ketika manusia berbicara tidak karuan, dan khusyu ketika manusia bersikap angkuh. Seorang pengemban Al Quran seyogyanya banyak menangis, bersedih, santun, bijak dan banyak diam. Seorang pengemban Al Quran tidak sepantasnya untuk berperangai kasar, lalai, teledor, gemar berteriak-teriak, dan suka marah-marah. (Abdullah bin Mas'ud Rodhiyallahu Anhu, Shabat Kufah, W. 32/33 H Madinah)

Mengobati Hati dan Niat

Harim bin Hayyan pernah berkata kepada Uwais Al Qarni Rahimahulah, "Nasihatilah Aku."
Beliau menjawab, "Jadikanlah kematian sebagai bantalmu saat kamu tidur, dan jadikan ia di pelupuk matamu. Jika kamu bangun, berdoalah kepada Allah untuk memperbaiki hati dan niatmu. Kamu tidak akan pernah mampu mengobati sesuatu yang lebih berat daripada mengobati hati dan niat. adakalanya hatimu bersamamu tetapi niatmu malah berpaling darimu, dan adakalanya hatimu berpaling namun niatmu datang menghampiri. Dan janganlah kamu melihat kepada kecilnya dosa tetapi lihatlah kepada keagungan Dzat yang kamu maksiati."(Tabi'in Kufah)

Rabu, 24 Juli 2019

Hanya Mengharapkan Wajah Allah

Allah Azza Wa Jalla Berfirman:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا [٧٦:٩]
 
Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

***
As-Sirri bin Yahya meriwayatkan dari Budail Al-Uqaili Rahimahullah berkata, "Barangsiapa dengan ilmunya mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla, Allah akan menghadapkan wajah-Nya kepadanya dan juga memalingkan hati-hati hambaNya menuju kepadanya. Dan barangsiapa yang beramal untuk selain Allah Azza wa Jalla, Allah akan memalingkan wajah-Nya dan hati-hati hambaNya darinya.
(Budail bin Maisarah Al Uqaili Rahimahullah (Tabi'in Bashrah W. 130 H)

Perkataan yang serupa:

Dari Laits bin Abi Sulaim dari Muhammad bin Wasi' Rahimahullah berkata, "Jika seorang hamba menghadap Allah Azza wa Jalla dengan hatinya, Allah Azza wa Jalla akan menghadapakan hati orang-orang beriman kepadanya."
(Muhammad bin Wasi' Rahimahullah, Tabiin Bashrah W 123H)

Mereka Tertawa

Dari Yunus berkata, Hasan Rahimahullah berkata, " Kita Tertawa, padahal bisa jadi Allah menengok amal-amal kita kemudian berfirman, "Aku tidak menerima amal kalian sedikitpun." 
(Hasan bin Abu Hasan Al Bashri Rahimahullah 
(Tabi'in, Bashrah, w.110H)

Jumat, 19 Juli 2019

Sejauh Mana Syukur dan Sabarmu

Abdul Malik bin  Abjar Rahimahullah berkata, "Manusia pasti di uji dengan kesehatan untuk dilihat bagaimana wujud syukurnya, atau diuji dengan bencana untuk dilihat sejauhmana kesabarannya."

Tidak Meremehkan yang Kecil

Abdul Mukmin bin Ubaidullah dari Al Hasan Rahimahullah berkata, "Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu akan melihat amalmu, dan kebaikan serta keburukanmu akan ditimbang, maka janganlah kamu meremehkan satu kebaikkan pun, sekalipun kecil, karena kamu melihat yang kecil itu akan membuatmu bahagia. Dan jangan pula meremehkan satu kejelekkan pun, karena jika kamu melihatnya, ia akan membuatmu sengsara. Semoga Allah merahmati lelaki yang mencari rezeki yang baik, berinfak dengan kesederhanaan, dan mempersembahkan keutamaan untuk hari kefakiran dan kebutuhannya (hari kiamat, hari ketika kita sangat membutuhkan pahala amal)."
Hasan bin Abu Hasan Al Bashri Rahimahullah.

Tidak Pernah Merasa Mulia

Ja'far bin Muhammad bin Bashir berkata, aku mendengar Junaid berkata, aku mendengar Sari Rahimahulah berkata, "Aku tidak pernah berpendapat bahwa aku lebih utama atas orang lain." ada yang bertanya," Tidak juga atas orang-orang yang banci." Beliau menjawab, "Tidak juga atas orang-orang yang banci." (Sari As-Saqathi Rahimahullah 253 H)

Rabu, 17 Juli 2019

Hikmah Kelalaian

Dari Bakar bin Abdullah Al-Muzanni berkata, Mutharrif bin Abdullah Rahimahullah berkata, "Seandainya aku tahu kapan ajalku akan tiba, sungguh aku khawatir akan kehilangan akal sehat. Akan tetapi Allah mengaruniakan kelalaian dari kematian kepada para hamba-Nya. Sekiranya bukan karena kelalaian itu, tentumereka tidak bisa hidup nyaman, dan pasar-pasar tidak akan dibangun di tengah-tengah mereka."

Dari A'masy berkata, Mutharrif bin Abdullah Rahimahullah berkata, "Aku mendapati bahwa kelalaian yang Allah Azza wa Jalla berikan ke dalam hati para shiddiqin dari hamba-hamba-Nya adalah bentuk rahmat Allah kepada mereka, seandainya Allah menghadirkan ketakutan di dalam hati-hati mereka sesuai dengan kadar pengetahuan mereka tentang -Nya, tentu kehidupan tidak akan membuat mereka nyaman."

(Mutharrif bin Abdillah Rahimahullah, Tabiin Bashrah wafat 95 H)

Kosa-kata:

Kelalaian: Al Ghaflatu; اَلغَفْلَةُ

Ukuran Ilmu seorang Guru ada pada Shalatnya

Dari Ibnu Anas dari Abu Aliyah Rahimahullah berkata, "Aku berpergian mencari seorang guru selama berhari-hari. Urusan yang pertama kali aku perhatikan darinya  adalah masalah shalat. Jika aku mendapati dia menegakkan dan menyempurnakan shalatnya, aku singgah dan mendengarkan ilmu darinya, namun jika aku mendapati dia menyia-nyiakan shalatnya, aku akan kembali pulang dan tidak mendengarkan ilmu darinya." Aku katakan, "Untuk selain shalat, dia pasti lebih menyia-nyiakan."

(Abu Aliyah Ar Riyahi Rahimahullah; Tabiin Basrah wafat pada bulan syawal 90 H)
Sumber: Ensiklopedi Hikmah, Ibnu Jauzi, No.307 hal. 189

Semarang
Rabu, 17 Juli 2019

Rabu, 10 Juli 2019

5 Hal yang tidak akan diketahui oleh Manusia Sepanjang Hidupnya

Kawan-kawan pembaca pelajaran iman, hari ini kita akan belajar lima hal yang tidak akan diketahui oleh manusia sepanjang hidupnya. hal ini menunjukkan bahwa  manusia adalah makhluk yang lemah dan perlu tunduk kepada yang Maha Qowiy Azza wa Jalla. 

Adapun lima hal tersebut ialah termaktub dalam surah Luqman di ayat 34.

 Allah Ta'alaa berfirman:

إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي 
نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ [٣١:٣٤]
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. 

Selasa, 09 Juli 2019

Dibalik Makan dengan Tangan Kiri


Allah Ta’alaa berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. (QS An Nur :21)
Dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah menyayangi hambanya yang beriman dan tanda kasih sayang ini ialah dengan memberikan perhatian (warning) untuk tidak mengikuti langkah-langkah syetan, karena syetan menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar. Dan dengan dasar ayat ini pula, bahwa kita yang beriman hendaknya untuk mengilmui setiap langkah-langkah syetan agar kita memiliki kontrol diri untuk tidak mengikutinya dan menjauhinya secara sadar maupun tidak sadar.
Seorang sahabat yang mulia yaitu Hudzaifah Ibnul Yaman, begitu semangat mengenali kejelekan, di samping ia juga paham amalan baik. Hudzaifah berkata, “Manusia dahulu biasa bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kebaikan. Aku sendiri sering bertanya mengenai kejelekan supaya aku tidak terjerumus di dalamnya.”
( HR. Bukhari no. 3411 dan Muslim no. 1847)

Sabtu, 26 Januari 2019

Jadilah Penyeru Shalat di keluargamu

Allah Subhanallah wa Ta'alaa menyebutkan kebiasaan mulia Nabiyullah Ismail Alaihis Salam yang suka mengajak keluarganya menunaikan shalat dan memberinya gelar Shodiqul wa'di (Seorang yg benar janjinya),

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا

Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Ismail di dalam Kitab (Al-Qur'an). Dia benar-benar seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi. Surat Maryam:54

وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا

Dan dia menyuruh keluarganya untuk (melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat, dan dia seorang yang diridhai di sisi Tuhannya. Surat Maryam, Ayat 55

selalu mengajak keluarga kita shalat adalah bagian dari menjaga diri dan keluarga kita dari dahsyatnya siksa api neraka.

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa. Surat Tha-Ha, Ayat 132

Semoga kita semua mendapat akibat yg baik di akhirat kelak.

Kamis, 24 Januari 2019

Tenang dengan bergantung hanya kepada Allah, bukan tenang bergantung dengan sebab


Hasil gambar untuk Allahus As ShamadBerapa banyak diantara kita yang merasa pasti akan berhasil ketika telah memperhitungkan  segala sesuatu dan segala kemungkinan yang akan terjadi, bahkan muncul dari benaknya sebuah kalimat bijak usaha tidak akan menghianati hasil. Maka dengan keyakinan seperti ini hatinya menjadi tenang kepada sebab yang telah diambilnya. Ketika sebab yang sudah diambilnya dengan penuh keyakinan  seratus persen itu sesuai dengan harapannya maka ia pun senang dan semakin yakin dengan kehebatan dirinya. Sebaliknya, jika tak sesuai dengan harapannya, ia pun kecewa berat atas sebuah kegagalan itu hingga frustasi menghinakannya. 

Kondisi diatas adalah gambaran bahwa seseorang telah bersandar kepada sebab. sebagai seorang mukmin kita wajib hanya bergantung kepada Allah (Allahus Shamad), seyogyanya ketika ia mengambil suatu sebab,  ia bertawakal memohon pertolongan kepada Allah Ta’alaa demi berpengaruhnya sebab tersebut. Hatinya tidak condong kepada sebab tersebut agar ia tidak tenang dikarenakan sebab, melainkan tenang karena Allah Ta’alaa.

Selasa, 22 Januari 2019

Dzikir Setelah Shalat yang Sesuai Sunnah

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Berikut Dzikir setelah Shalat Fardhu Sesuai Sunnah Nabi ﷺ

1. Membaca :

أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ
“Saya memohon ampun kepada Allah.(3x) Ya Allah Engkau Maha Sejahtera, dan dari-Mu lah kesejahteraan, Maha Suci Engkau wahai Rabb pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”
(Keterangan: HR. Muslim no.591 (135), Ahmad (V/275,279), Abu Dawud no.1513, an-Nasa-i III/68, Ibnu Khuzaimah no.737, ad-Darimi I/311 dan Ibnu Majah no.928 dari Sahabat Tsauban رضي الله عنهم)
Perhatian: Hendaklah dicukupkan dengan bacaan ini dan jangan ditambah-tambah dengan macam-macam bacaan lainnya yang tidak ada asalnya dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Misykaatul Mashaabiih 1/303)

2. Membaca :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ, اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
"Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau beri, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya dari (siksa)-Mu.”

(Keterangan: HR. Al-Bukhari no.844 dan Muslim no.593, Abu Dawud no.1505, Ahmad IV/245, 247, 250, 254, 255, Ibnu Khuzaimah no.742, ad-Darimi I/311, dan An-Nasa-i III/70,71, dari  Al-Mughirah bin Syu’bah.)

3. Membaca :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَلَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ حَوْلَوَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُالنِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُالْحَسَنُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُمُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَالْكَافِرُوْنَ
"Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah. Kami tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Baginya nikmat, anugerah, dan pujian yang baik. Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.”

(Keterangan: HR. Muslim no.594, Ahmad IV/ 4, 5, Abu  Dawud no. 1506, 1507, an- Nasa-i III/70, Ibnu Khuzaimah no.740, 741, Dari ’Abdullah bin az Zubair رحمه الله.)

4.Membaca :
سُبْحَانَ اللهُ
Subhaanallaah (33x)
“Maha suci Allah”

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
Alhamdulillah (33x)
“Segala puji bagi Allah”

اَللهُ أَكْبَرُ
Allahu Akbar (33x)
“Allah Maha Besar”

Kemudian untuk melengkapinya menjadi seratus, ditambah dengan membaca:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

"Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

(Keterangan: “Barangsiapa membaca kalimat tersebut setiap selesai shalat, akan diampuni kesalahannya, sekalipun seperti buih di lautan.” HR. Muslim no.597, Ahmad II/371,483, Ibnu Khuzaimah no.750 dan al-Baihaqi II/187).

Kemudian membaca
Ayat qursi Al-Ikhlas Al-Falaq Al-Annas
"Khusus Subuh dan Maghrib dibaca 3X" (Al-Ikhlas Al-Falaq Al-Annas)

Membaca setelah selesai shalat Shubuh, disunnahkan membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
"Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amalan yang diterima."

Kemudian Membaca 10X tiap subuh dan maghrib:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

"Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan (orang yang sudah mati atau memberi ruh janin yang akan dilahirkan) dan yang mematikan. Dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 10x setiap selesai shalat maghrib dan shubuh).

(Keterangan: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallambersabda: “Barangsiapa setelah shalat Maghrib dan Shubuh membaca ‘Laa ilaaha illallaåh wahdahu laa syarikalah, lahul mulku, walahul hamdu, yuhyiy wa yumiytu wahuwa ‘ala kulli syay-in qådiir,’  sebanyak 10x Allah akan tulis setiap satu kali 10 kebaikan, dihapus 10 kejelekan, diangkat 10 derajat, Allah lindungi dari setiap kejelekan, dan Allah lindungi dari godaan syetan yang terkutuk.” (HR. Ahmad IV/227, at-Tirmidzi no.3474). At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan gharih shahih.”)

Jangan Takut!!!

Ada hal yang sangat menarik ketika kita membaca kisah Musa Alaihis salam yang Allah ceritakan di dalam surahnya Taha. Menariknya ialah tatkala Allah mengulang –ulang satu kalimat ‘Jangan Takut!’ kepada Rasul-Nya Musa Alaihis Salam.
Hasil gambar untuk Nabi MusaPertama saat Rasulullah Musa alaihis salam diperintahkan untuk mengambil tongkat yang saat itu sedang berubah menjadi ular. Sebenarnya rasa takut yang dirasakan oleh Nabi Musa Alaihis salam adalah muncul dari naluri alami manusia, ketika ada makhluk yang mengerikan dan  dapat mengancam maka manusia ketika itu menjadi takut. Namun Allah menepis rasa takut itu dengan perintahNya artinya jangan pernah ragu dan khawatir dalam menjalankan perintah Allah walau perintah itu tak masuk diakal (belum dapat dicerna) manusia.
قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ ۖ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَىٰ [٢٠:٢١]
Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula,

Kedua, Rasa takut Nabiyullah Musa Alaihis salam kembali muncul, tatkala Allah perintahkan dirinya dan Nabiyullah Harun Alaihis salam untuk menemui Firaun dan mendakwahkan tauhid dihadapannya. Rasa takut ini muncul kembali, karena pertimbangan pengetahuan yang dimiliki oleh Nabi Musa atas  firaun, bahwa ia adalah seorang yang memilki kebijakan yang sering kali melampaui batas, seperti kebijakannya membunuh seluruh anak laki-laki  bani Israil yang baru lahir dan ia suka menyiksa semaunya, seperti kisah mashitoh tukang sisir istana yang disiksa diluar batas. Maka dengan pertimbangan seperti ini Nabiyullah Musa dan Harun merasakan takut. Namun Allah menepis rasa takut itu dengan mengatakan bahwa Allah bersama mereka berdua , mendengar dan  melihat.
قَالَا رَبَّنَا إِنَّنَا نَخَافُ أَن يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَن يَطْغَىٰ [٢٠:٤٥]
Berkatalah mereka berdua: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas".
قَالَ لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ [٢٠:٤٦]

Senin, 21 Januari 2019

Surga Pelipur Lara bagi Mereka yang Beriman

Saat Maryam merasakan rasa sakit akan melahirkan memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma, Dia (Maryam) berkata, "Wahai betapa baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan."

Maka Dia (Jibril)berseru kepada-nya dari tempat yang rendah " Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.(19:23-24)

Begitu yang terjadi dengan Sahabat Anshar Anas bin Nadhar Rodhiyallahu Anhu yang mengikuti perang Uhud bersama Rasulullah, Saat seluruh sahabat melindungi Rasulullah dari serangan musuh dengan mundur naik ke bukit. Anas pun memilih loncat ke tengah-tengah musuh dan mendapatkan syahidnya karena kuatnya ia mencium bau surga.

Sahabat Umair bin Hammam Radhiyallahu Anhu tak lagi lanjut memakan kurmanya dan memilih melemparkannya di perang Badar, saat Ia mengetahui bahwa dirinya salah satu penghuni surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Itulah surga yang akan kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.(19:63)
Yaitu Surga Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan yang Maha Pengasih kepada hamba-hambaNya. Sekalipun surga itu tidak tampak. Sungguh janji Allah pasti ditepati. (19:61)